Kamis, 23 November 2017

Tragedi di Hutan Pakem


Asa turun dari angkot tepat di depan halte bus, sudah tiga hari ia bangun pagi-pagi sekali dan pulang sekitar jam 01:00 dini hari, karena harus menjadi panitia Ospek. Hari itu, ia pulang lebih larut dari biasanya. Jarak halte tersebut dengan rumahnya masih dua kali naik angkot, itu pun hanya diturunkan di terminal.
Sebenarnya bisa saja dia ke kampus dengan mobil pribadi karena orang tuanya orang berada, tetapi katanya ia ingin belajar mandiri. Asa merupakan anak dari Dr. Sinta, seorang dokter bedah di kota itu, sedangkan ayahnya bekerja sebagai arsitek. Sudah satu tahun ini ayahnya tak bisa keluar rumah karena penyakit ginjal yang ia derita, yang membuat Dr. Sinta harus kesana kemari mencari pendonor.

Lima belas menit lelaki itu berdiri di depan halte, berharap akan ada angkutan yang lewat, sementara waktu telah menunjukkan pukul 02:00 dini hari, rupanya siang tadi ada demonstrasi besar-besaran para supir angkot yang menuntut kenaikan tarif angkutan umum. Itulah yang menjadi alasan mengapa angkutan sepi, dan nampaknya angkot yang ia tumpangi sebelumnya adalah yang terakhir.
Dering ponsel dari saku celananya memecah sunyi yang hanya dihiasi nyala lampu jalan, ia kemudian menariknya dan benar saja, ada telpon masuk. Terdengar suara halus seorang wanita yang sangat ia kenal. “Iya Bunda?”…. Asa terdiam sejenak, seperti sedang mendengarkan orang berbicara. “ini nih, Bun… baru sampai di Halte”. “tenang aja, lagian Asa udah biasa kok jalan sendiri. Anak Bunda kan bukan orang sembarangan”. Nampaknya di seberang meminta agar Asa berhati-hati. “aduh, Bunda!!!. Nggak usah, udah berapa kali dibilangin, sih. bentar lagi juga ada angkot lewat kok, pokoknya tunggu aja di rumah, nanti Asa telpon lagi ya, bye Bunda”. Jawabnya agak membentak seolah kesal pada telpon genggam itu.
02:20
Jalanan sudah benar-benar sepi, tak ada satu pun kendaraan yang melintas, apalagi pejalan kaki. Beberapa meter dari pinggiran jalan itu hanya ada hutan belantara, seolah menjadi pembatas antara aspal dan alam liar. Malam semakin larut dan sunyi hanya terdengar auman anjing hutan.  Hawa terasa sangat dingin saat angin berhembus perlahan, melanggar tubuh Asa yang hanya dibalut kaos oblong, celana pensil, dan jas almamater yang kini berdiri tanpa ditemani siapapun, kebetulan kota itu masih sangat asri dan banyak hutan di sana-sini.
Dering ponselnya kembali mengusir kesunyian, ia menatap layar Smartphone itu, tertulis “Bunda". “iya, Bunda?” ucapnya seolah menanyakan apa yang Bundanya inginkan. “kamu udah di mana, sayang?”. “masih di jalan, nih”. Ditengah percakapan, Asa melihat tiga sosok dari kejauhan berjalan sempoyongan ke arahnya. Sambil terus berbincang, ia menatap ketiga sosok itu, yang berjarak sekitar dua puluh meter dari tempat ia berdiri. Ketiganya seperti sosok lelaki kekar, namun jarak dan suasana malam membuatnya nampak seperti seluet. Mereka terus saja mendekat, namun sepertinya tak sadar dengan kehadiran seorang pemuda yang berdiri di depan halte karena ketiganya terlihat asyik berbicara satu sama lain. Sementara itu, Asa yang masih melanjutkan perbincangan dengan Bundanya berharap itu adalah sebuah pertolongan.
Tiba-tiba, komplotan itu berhenti tepat dibawah lampu jalan yang berjarak sekitar sepuluh meter dari halte. Cukup jelas terlihat warna kulit dan pakaian yang mereka kenakan. Mereka mematung seraya terus menatap ke arah Asa yang juga sedang menatap mereka. Tiba-tiba salah satunya mengangkat tangan dan menunjuk ke arah pemuda yang beridiri di depan halte itu. Mereka lantas bergegas mengampiri halte ketika pemuda berkacamata itu memberi isyarat untuk mendekat. “udah ada orang nih, Bunda”. Serunya. “Adik ini mau kemana?” Tanya pria botak yang berdiri di tengah, tatapannya tampak beringas. “saya mau pulang bang” ujar Asa singkat sambil tersenyum. “Rumahnya di mana?” pria dengan jaket levis itu lanjut menginterogasi. “di K. P. Beauty Hills, bang”… Asa terdiam sejenak, lantas melanjutkan “Kira-kira saya boleh minta tolong nggak bang buat diantar ke sana?, soalnya dari tadi saya nungguin angkot, nggak ada yang lewat”. Pintanya selagi menggenggam Smartphone yang masih tersambung dengan sang Bunda. Pria botak itu pun mengiyakan permintaan si pemuda seraya mengajaknya berjalan menjauhi halte. “Bunda, udah dulu ya, Asa udah mau berangkat nih”. “Yaudah, sayang… Asa hati-hati yah dijalan”, suara halus di telpon itu membalas. 
Belum lama mereka melangkahkan kaki dari halte ketika Asa hendak mematikan telpon, tiba-tiba pria gondrong yang berjalan di belakangnya menyapa “dik, kalau begitu, adik bisa lah memberi kita ini uang!, hitung-hitung sebagai ongkos jalan!”. “iya betul, dik!. Lagian kita kan capek juga harus mengantar adik. Jaraknya kejauhan”. Ujar si Botak mengiyakan. Sementara teman mereka yang satu lagi hanya terdiam menatap tajam ke arah Asa. Ia berbalik, kemudian mengeluarkan uang lima puluh ribu dari sakunya dan memberinya kepada si Botak. “Maaf, bang. Adanya cuma segini, nanti sampai rumah saya tambah lagi, ini jadi DP-nya aja”. ucapnya ramah sambil mengulurkan tangan.
Raut wajah ketiganya seketika berubah masam ketika melihat jumlah uang yang diberikan, dan lagi-lagi si pria gondrong menggoda “wah, kurang ini dik. Kalau Cuma segini ongkos bensinnya nggak cukup…. Bagaimana kalau hape adik saja yang dikasih ke kami sebagai jaminan?”. Tawarnya diiringi seringai licik. “benar itu. Bensin itu mahal dik, apalagi jaman sekerang!” kali ini kawan mereka yang satu lagi ikut berbicara membenarkan perkataan si gondrong. 
Asa berusaha meyakinkan mereka bahwa ketika sampai di rumah ia akan memberi lima kali lipat dari itu, tetapi ketiganya tetap ngotot meminta lebih bahkan hendak merampas tas berisi Laptop dan telpon genggam. Anak itu mencoba melawan dengan merampas kembali tas hitam jinjing itu. Keempat orang itu kemudian berdebat panjang di bawah lampu jalan, sembari berusaha menenangkan ketiganya, pria kekar yang tak banyak bicara mulai mengeluarkan sebilah pisau lipat dari saku celananya. Melihat itu, Asa memperingatkan bahwa polisi akan segera mengetahui kejadian ini bila mereka melakukan kekasaran. Namun, peringatan itu tak dihiraukan, ia terus mendekat dan mencoba menusuk perut mahasiswa itu. Beruntung, ketiganya dalam keadaan mabuk, sehingga Asa dapat menghidar. Ia kemudian mendorongnya dengan sekuat tenaga hingga pria itu terpental kebelakang dan menimpa kedua temannya hingga jatuh. Kejadian itu terdengar oleh Bundanya, karena kebetulan Asa belum sempat mematikan ponsel ketika para penjahat itu mulai meminta bayaran. “Asa, ada apa?, apa yang terjadi di situ, kamu diapakan oleh orang itu……Asa, jawab bunda!!!”. Rupanya, Loud Speaker telpon genggam itu tak sengaja tertekan ketika ia mendorong si Pria pendiam. Tetapi tak sempat menjawab Bundanya karena keadaan sedang tegang. Ia berusaha melarikan diri, namun dengan sigap pria pendiam itu memegangi kakinya dengan kuat. Asa yang jantunngnya mulai berdetak kencang, panik dan refleks menendang-nendangi kepala pria itu hingga genggamannya terlepas. Pria itu melenguh kesakitan sambil memegangi kepala dan matanya yang mengeluarkan darah.
Pemuda itu mulai berlari meninggalkan mereka dengan napas yang memburu. Setelah beberapa lama berlari, tiba-tiba ia terhenti, seolah mengingat sesuatu. Refleks meraba saku celana dan almamaternya, memeriksa barangkali ada yang tertinggal. Rupanya telpon genggamnya tertjatuh saat ia hendak melarikan diri. Pemuda itu menoleh ke belakang dan dilihatnya cahaya sekitar beberapa meter saja dari ketiga pria kekar itu. Loud Speaker Hp-nya masih menyala sehingga sangat jelas suara Bundanya yang gemetar dan khawatir. Ia pun bergegas kembali ke komplotan. Namun rupanya, salah satu dari mereka, si Botak menyadari kesempatan emas itu, sementara kedua kawannya sedang kesakitan. Penjahat itu pun merangkak hendak meraih ponsel. Tak ingin kalah cepat, Asa memacu dirinya dan berlari sekuat tenaga untuk mengambil ponsel itu, seolah tak mengingat keselamatannya. Beruntung dia lebih cepat dari si Botak yang masih merangkak lambat karena perutnya menindih batu ketika terjatuh tadi. Pemuda berkacamata itu, kembali berbalik dan mulai meninggalkan mereka. Napasnya sudah terengah-engah ketika para penjahat itu bangkit dan mengejar. “kurang ajar, jangan lari kau… kau tak akan bisa selamat malam ini. Ini adalah malam terakhirmu, nak”. Teriak si Botak sambil menunjuk Asa.
Dari kejauhan, terlihat sebuah bangunan kecil yang bercahaya di tengah kegelapan. Asa yang sudah tak sanggup berlari, mencoba meraih tempat  yang betuliskan “Pos Polisi” itu. “Toloooong”…. “toloooong”…. “saya dikejar… saya mau dibunuh…. Polisi toloong”. Pekiknya lantang. Tak terpikir lagi akan ponsel yang sejak tadi tersambung dengan Dr. Sinta. Bunda yang sejak tadi mengetahui kejadian itu, hanya bisa mengangis dan bertertiak, karena nyawa anaknya berada di ujung tanduk.
Bagai ada juru selamat yang menghampiiri ketika melihat seorang pria berseragam keluar dari bangunan itu. Pria berseragam kemudian menjemput seraya merangkulnya. “Tolong…. Tolong saya… tolong saya, pak”. Serunya diiringi napas yang memburu dan jantung yang telah melonjak sejak tadi. Sang petugas melihat ketiga orang yang berlari ke arah mereka berdua. Seketika itu juga ia mencabut pistol dari pinggangnya dan mengeluarkan tembakan peringatan ke udara. Suara tembakan yang teramat keras, memecah kesunyian malam itu. ketiga orang itu kemudian menjauh dari keduanya. Petugas hanya berdiri menatap para penjahat itu yang kemudian hilang dari pandangan.
Petugas datang membawakan segelas air kepada pemuda itu, yang kemudian menceritakan kejadian yang telah menimpanya, sementara Hpnya sudah lama dimatikan. “begitu…. Begitu pak!” jelasnya dengan napas yang masih menggebu-gebu, sementara itu, waktu telah menunjukkan 02:40 dini hari. “untung saja di sini ada pos polisi, dik. Kalau tidak, saya tidak tahu apa yang akan terjadi kepada adik. Lagipula, ngapain adik kembali mengambil Hp bukannya lari saja?”. Belum saja pertanyaannya dijawab, ia kembali melanjutkan. “makanya, dik. Lain kali jangan pulang terlalu larut, bahaya. Yang pulang siang hari saja bisa jadi target kejahatan, apalagi yang pulang malam. Malam itu rawan kejahatan, dik!”. Ujar petugas paruh baya itu menasihati. Kemudian, dia diinterogasi, suasana menjadi hening setelah Asa selesai diinterogasi.
Waktu menunjukkan pukul tiga pagi. Setelah merasa cukup tenang, Asa pamit hendak meninggalkan Pos polisi tersebut. “pak, bisa antarkan saya nggak?, saya masih takut dengan kejadian tadi. Takutnya ibu saya khawatir kalau saya tidak pulang” ujarnya dengan wajah ngeri. “kenapa tidak besok saja, dik?. Atau adik telpon orang tuanya suruh jemput kemari, lagipula jaraknya sudah tidak terlalu jauh kan dari sini?”. “sudah, pak. Tapi nomornya tidak bisa dihubungi”. Keluhnya. “aduh… sayang sekali, motor yang ada di depan bensinnya sudah habis, dik. Besok pagi adik baru bisa saya antar”. Petugas itu terdiam sejenak, lalu melanjutkan “adik tenang saja, preman-preman tadi tidak akan berani membuntuti adik. Mereka memang sudah sering berkeliaran di sekitar sini, tapi tak pernah berani lewat Pos ini. Jadi saya bisa jamin kalau adik akan aman-aman saja, adik bisa pulang dengan tenang, percaya dengan bapak”. Usul si petugas dengan penuh keyakinan.
Tepat pada pukul 03:15 dini hari, Asa memberanikan diri pamit setelah selesai mengisi baterai ponselnya. Petugas Pos ikut menemaninya sampai ujung pertigaan. Dari sini, ia kemudian berjalan sendirian sambil menenteng tas hitam dan almamater hijaunya. Selang berapa lama setelah ia menyalakan ponsel, panggilan kembali masuk dan itu dari Bundanya. “Halo, halo… Asa, gimana kabar kamu, nak?. Kamu baik-baik aja, sayang?, Posisi kamu sudah di mana sekarang?. Bunda khawatir sekali kamu kenapa-kenapa. Bunda sudah lapor polisi soal kejadian tadi”. Tangis sang Bunda. Asa dapat membaca bahwa Bundanya sangat khawatir, bahkan Bunda-nya berkata ia sempat pingsan karena Hp-nya tak bisa dihubungi beberapa kali. “Bunda tenang aja. Tadi ada polisi yang nyelamatin Asa”. Ia kemudian menceritakan apa yang dikatakan oleh petugas tadi kepada sang Bunda dengan penuh antusias. “Loh, sejak kapan di Jl. Pakem ada Pos Polisi?”. 
Asa langsung melonjak mendengar pertanyaan sang Bunda, ia pun menjelaskannya. Namun, sepengetahuan Bundanya di jalan itu tak pernah ada Pos Polisi atau hal-hal yang berhubungan dengan itu. sejak dulu, jalanan itu sangat sepi dan hanya ada hutan. Memang dua tahun lalu, pihak kepolisian berencana membangun Pos, tetapi tidak jadi karena beberapa alasan, bahkan sangat jarang ada orang yang melintas. Jantungnya kembali berdebar mengetahui semua itu. sekujur tubuhnya gemetar dan kehilangan keseimbangan. Tiba-tiba, pundakanya terasa berat seperti ada yang menepuk.
Ia melihat pundaknya yang sebelah kanan dan persis… Tangan yang begitu kasar dan lebar telah menempel. “akhhhh!!!”. Asa melenguh kesakitan karena pundaknya bagai ditekan benda keras. Tangan itu terlepas dengan sendirinya. “Ya ampun, nak. Kamu kenapa?”. Bundanya mulai panik mendengar Asa merintih. Pemuda itu berbalik.
Apa yang dilihatnya sangat mengagetkan. Sosok pria berbadan besar dan kekar telah berdiri dengan kepala berdarah. Jantungnya semakin melonjak ketika ia tahu bahwa pria itu adalah orang yang hampir menusuknya tadi. Raut muka pria kekar itu sangat bengis, napasnya berat. Ia mulai mengeram. “mau kemana kau sekarang, nak?” Tanyanya menyeringai sambil menatap dalam-dalam ke mata anak itu. “Sudah kukatakan padamu, bahwa kau tak akan bisa lolos. Malam ini adalah malam terakhir kau melihat cahaya bulan”. Ujar suara di belakang pria itu, yang telah berdiri tegak sambil menenteng parang sementara kawannya yang gondrong membawa gergaji. “Lari-lah, selama kau masi bisa”. Tawar si pria botak tersenyum diiringi pandangan tajam.
Karena panik, tanpa berpikir panjang ia langsung berlari tak tentu arah, dan masuk ke dalam hutan. Asa terus berlari dengan Hp yang masih tersambung panggilan. Ia tak menghiraukan suara Bundanya lagi dan terus berlari dari ketiga orang itu. Sesampainya di tengah hutan, ia menemukan sebuah gubuk tua yang sudah reot. Ia menoleh ke belakang, tak ada tanda-tanda dari para penjahat. Pemuda itu kemudian bersembunyi di dalam gubuk tua. “Bunda… Tolong bunda, tolong bunda…. Toloooong!”…. Bundanya dapat mendengar suara sang anak yang sangat ketakutan, namun Asa tak dapat mendengar suara sang Bunda karena ganggguan sinyal…. Hpnya ia dekatkan ke bibirnya, Dr. Sinta dapat mendengar dengan jelas ketakutan sang anak. “Bunda…. Mereka mengejar Asa lagi….” Ujarnya perlahan dengan suara yang hampir tak terdengar.
Langkah kaki terdengar berkeliling di sekitar gubuk. “cari dia sampai ketemu!!” seru salah satu dari mereka. “ya ampun, ya ampun ya ampun… Tuhan tolong… tolooong… selamatkan akuuuu”. Pekiknya perlahan meremas-remas ponsel dan tangannya. Keringat dingin sejak tadi sudah memenuhi wajah dan seluruh tubuh pemuda itu. Terdengar pintu gubuk yang dibuka paksa diiringi langkah berat beberapa sepatu memasuki ruangan gelap itu, sementara cahaya senter menerobos setiap relung gubuk. Ia berusaha menahan jeritan dan napasnya yang memburu. Langkah sepatu itu terus berputar-putar di dekat peti tempat Asa bersembunyi. “Bunda, selamatkan Asaaa”. Keluhnya. Ia tak tahu apa yang Bundanya lakukan, karena ia tak mendengar apa-apa selain beratnya langkah kaki ketiga orang yang mengejarnya. 
Tiba-tiba sebuah suara terdengar dari ponsel yang sedang ia pegang, ia segera mengecilkan volumenya sampai hampir tak terdengar. “Nak, di mana kamu sekarang?”, Tanya sang Bunda. “Asa lagi sembunyi di peti Bunda, tapi orang-orang itu masih keliling di sekitar petinya”. Bisiknya. “tolong Asa Bunda, toloooong…. Mereka udah niat mau bunuh Asa sekarang!!!”. Tangisnya. “mereka udah pegang parang sama gergaji, mau potong kepala Asa” ia melanjutkan sambil mengintai keadaan dari lubang kecil di peti. Sementara, langkah sepatu berlalu lalang di sekitar peti itu. “Kamu tenang nak, sebentar lagi polisi datang ke situ, jangan keluar dari situ” seru Dr. Sinta. Anak itu tak tahu lagi harus bagaimana agar bisa lolos. sementara, setiap kali mendengar langkah sepatu itu mendekat jantungnya berdegup lebih kencang dari sebelumnya....
Langkah kaki mulai menjauh dari tempat itu satu persatu, dan hilang tak terdengar lagi. Detak jantungnya perlahan-lahan mulai melambat. “Suaranya udah ngga ada bunda, kayaknya mereka sudah pergi”, suaranya terdengar sedikit lebih tenang dari sebelumnya. Bundanya sangat senang mendengar apa yang ia sampaikan. Namun, kesenangan itu tak bertahan lama, karena suara sepatu itu kembali mendekat dan memasuki gubuk mengarah ke peti, dan tiba-tiba berhenti. Beberapa saat, suasana menjadi hening. Asa kemudian terdiam dan segera mematikan layar Hp-nya. Beberapa saat kemudian, ia merasa badannya terangkat ke udara bersama dengan peti itu. yang kemudian terbanting ke lantai. Asa berteriak kesakitan karena peti itu dibanting hingga hancur. Pemuda itu berusaha untuk bangkit.
Ketika ia berbalik, ketiga pria kekar tersebut sudah berdiri tegak berdampingan menghadap dirinya dengan seringai licik mereka. Parang dan gergaji sudah berada di tangan dua orang, sementara pria yang satunya lagi hanya berdiam sambil menyeringai disertai tatapan tajam. “Bundaaaaa…. Tolong selamatkan akuuuu!!!!” tangisnya…. “ya ampuuun… ya ampuuun… ya ampuuuun, apa yang sebenarnya kalian inginkan???”. Pekik pemuda itu, gemetar. Badannya sudah mulai lesu diiringi tangis. “tolooong… tolooong, jangan bunuh akuu…. Tolooong”…. Ketiga orang itu diam mematung dengan seringai yang tampak sangat menyeramkan. Ponsel masih menyala dan tersambung panggilan kepada si Bunda. Pria botak mulai mengangkat parannya tinggi-tinggi, sementara itu wajah Asa diselimuti kepanikan. Pria itu mulai menghujamkan parang ke arahnya “ya ampun…. Ya ampun…. Ya ampuuun…. Aaaaaaaah”…….. panggilan terputus.
Sekitar pukul 03:40 tiga orang terlihat mendatangi Pos Polisi di Jalan Pakem dengan pakaian yang berlumuran darah. Satu persatu mereka memasuki ruangan dan duduk di kursi yang telah disediakan di depan meja petugas. 
“bagaimana?, kalian sudah bereskan?” Tanya petugas itu. 
“sudah bos!” jawab seorang pria kekar berkepala botak. 
“bagaimana dengan bagian-bagiannya?”
“kami juga sudah bereskan, dan semua dalam kondisi sangat baik”. “bagus” puji sang petugas. Ia melanjutkan “kalau begitu, kau hubungi Dr. Sinta, katakan padanya bahwa kita sudah menemukan pendonor ginjal untuk suaminya, dan jangan lupa bagian yang lain kalian simpan baik-baik Karena itu harganya mahal”. Ia terdiam sejenak lalu menatapi ketiga orang itu. “oh iya. Mata dan paru-parunya sudah dipesan oleh seseorang, besok kalian kirimkan ke orang itu dan jangan lupa, ambil bayarannya”. Tegasnya. “satu hal lagi… Jon, kemana kau buang sisa badannya?” Tanya nya kepada pria pendiam. “sudah saya giling, bos. Untuk dijadikan daging bakso di warung kita”. Jawab pria itu dengan wajah yang datar. Bosnya hanya mengangguk mendengar apa yang ia katakan. Tamat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar